Seperti yang telah saya janjikan dan tujuan saya menulis blog ini,
saya akan me-sharing ilmu yang saya dapatkan dari kelas menulis cerpen atau novel hari pertama kemarin,
Soo.., are you ready?
Yes! Yes! You have to ready...
pertama-tama biarkan saya menjelaskan guru yang akan membimbing kami selama tiga bulan ke depan ini...
Namanya adalah A.S Laksana,
beliau adalah lulusan UGM jurusan Sospol, jadi sangat bisa dimengerti bila telinga ini mendengar aksen-aksen kental Jawa dari setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
Merujuk dari biodata bukunya yang berjudul " Creative Writing" karangannya (Super duper Promise!!! later bakal bahas buku ini karena isinya sangat berguna...), beliau merupakan salah satu sastrawan terbaik di Indonesia.
Pada tahun 2004, kumpulan cerpen beliau yang berjudul "bidadari yang mengembara" merupakan salah satu karya sastra terbaik versi Majalah Tempo dan ditahun yang sama dirinya juga merupakan sastawan terbaik versi majalah yang sama.
Jadi..., Pak A.S Laksana ini memang sosok yang tepat untuk kita serap ilmunya dalam bidang tulis menulis ini.
Pada pembukaan kelas menulis ini,
juga ditekankan bahwa menulis, sama seperti pekerjaan atau kegiatan lainnya,
sesuatu yang bisa dipelajari dan practice make it perfect.
menulis itu bukan sesuatu yang berasal dari bakat, melainkan dari suatu proses pembelajaran dan berlatih untuk menulis.
Setelah pembukaan, Pak A.S. Laksana menyuruh kami untuk menulis mengenai
biodata kami pada halaman novel kami pada saat 10 - 15 tahun ke depan selama 10 menit.
Hasil tulisan saya selama 10 menit ini adalah:
Karizza Rakmavika namanya. Perempuan kelahiran 1991 yang mendapatkan gelar S.H dan MKn dari Fak. Hukum UI, debut di dunia penulisan dengan novel remaja berjudul Secret Admirer ini terus aktif menulis hingga sekarang. Kecintaannya pada drama dan fashion mendorongnya untuk menjadi penulis skrip dan menjadi kontributor pada majalah fashion ternama di Indonesia. Tak berbeda dengan tulisan-tulisannya yang lalu, tulisannya kali ini masih berbau romance.Singkat, padat, tapi kurang jelas.
Namun sulit ditulis dalam 10 menit karena ini menyatakan diri kita untuk 10-15 tahun kedepan.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya masukan dalam biodata itu, seperti...
saya juga aktif menjadi notaris..., kalau sebenarnya naskah skrip yang saya tulis itu adalah cerita yang berasal dari novel-novel karangan saya, saya juga ingin menjadi kontributor di bidang beverages and foods, dan kalau bisa tidak hanya pada majalah-majalah terbaik di Indonesia, jadi juga mancanegara.
Tapi apa daya, saya malu untuk menulisnya.
Hanya dengan tulisan mengenai biodatanya saja, Kak Nilam Suri sang pengarang Camar Biru, berhasil membuat aku kagum sekaligus iri dengan kemampuannya memilih dan menyusun kata. Biodata singkat Kak Nilam yang miliki pemilihan kata sederhana namun tepat sasaran itu, membuat saya minder dan ketir dengan kemampuan menulis dan imajinasi saya.
Kenyataan yang lebih menohok lagi adalah kedatangannya yang terlambah Kak Nilam, sehingga waktu menulisnya lebih sedikit dari waktu yang aku punya, tapi hasilnya... sangat cetar membahana... .
Setelah semuanya membacakan biodatanya masing-masing, Pak A.S. Laksana
menyuruh kami menyimpan biodata itu guna menjadikan dia sebagai tujuan kami sebagai penulis.
Akhirnya masuk ke materi pelajaran sekolah menulis.
dalam materi itu, Pak A.S Laksana menekankan kalau:
- Cerita yang bagus adalah cerita yang seperti berlian yang bersinar dan indah disetiap sisinya. Jadi setiap cerita yang bagus adalah cerita yang kuat baik dalam plot, karakter, pemilihan kata, dan lainnya. Karena tidak mungkin cerita yang baik itu hanya kuat di satu aspek saja dan oleh karena itu, setiap penulis harus mampu menguasai teknik-teknik dari setiap aspek tersebut.
- Cerita yang cerdas adalah metafora. Metafora adalah kemampuan untuk menyampaikan secara tidak langsung. Jadi bila kita ingin menyampaikan A maka kita menyebutkan B. Misalnya kita ingin mengucapkan "sedih", kita tidak langsung menuliskan sedih atau sinonimnya tapi menceritaknnya dengan cara lain, seperti melalui tindakan sang tokoh atau rangkaian adegan. Dengan begitu, cerita kita tidak mendikte melainkan mengajak pembaca berkhayal.
- Cerita yang baik akan abadi.Cerita yang baik akan abadi karena selalu sanggup melepaskan diri dari ruang dan waktu, karena cerita itu selalu memiliki kesejajaran pengalaman hidup dengan pembacanya dari berbagai masa dan tempat.
- Karya sastra tidak ruwet dan sulit untuk dibaca. bila ada karya sastra yang ruwet maka hal itu disebabkan karena ketidakmampuan penulisnya untuk menemukan pengucapan yang lebih sederhana.
Kemudian, pada kelas itu juga dijelaskan bahwa berdasarkan penelitian Joseph Cambell,
cerita diseluruh dunia, umumnya terdiri dari 12 tahap:
- Kehidupan normal;
- Panggilan bertualang;
- Menolak Panggilan Bertualang;
- Pertemuan dengan mentor;
- Melintasi gerbang pertama;
- Ujian pertama;
- Memasuki gua atau dunia berbahaya;
- cobaan berat;
- berupaya keluar dari goa atau dunia berbahaya;
- mendapatkan pedang sakti;
- kebangkitan kembali;
- kembali dengan obat mujarab.
hal inilah yang menjadi pr kami...
kami harus membuat outline dengan susunan tahapan ini, yang menurut saya sendiri agak sulit memasukan unsur-unsur ini untuk novel romance.
but..., it worth to try!
again...,
best regard,
Karizza Rakmavika.
see you...
0 komentar:
Posting Komentar