Senin, 25 Februari 2013

KELAS MENULIS by Jakarta School : Day 3

 Hai Hai..., 
sedikit malu rasanya menyapa kawan-kawan, 
setelah berhutang 1 post mengenai kelas menulis Day 3 yang seharusnya dipost minggu lalu... 
dan seharusnya sekarang aku mem-post materi kelas menulis Day 4... 
yakan? but... better late than never-kan? ehehe... *excuse* 

Sedikit agak sibuk beberapa hari belakangan ini, 

mengejar dateline project untuk mendapatkan gelar dari kampus tercinta... 
but it worth it ! soalnya... skripsi udah di accept.. ehehe... 
yang tersisa sekarang adalah urus2 jadwal sidang dkk.. 

please..., pray for me and keep support me.. 


cukup sudah untuk cuap-cuapnya... 

dan balik ke tujuan awal, sharing materi kelas menulis Day 3... 
ehehe... 

materi hari ke 3 ini talking about plot.. 

dan akan dilanjutkan lagi pada materi hari ke 4 nanti (promise will post about it asap )

*BEBERAPA PERSOALAN DALAM PLOT 

 Jadi didalam plot biasanya mengandung beberapa peristiwa tidak terduga, yaitu : (1) kebetulan yang menggerakan cerita, (2) Dewa penolong, dan (3) kebetulan yang diada-ada. 
Peristiwa tidak terduga yang pertama, yaitu peristiwa yang menggerakan cerita adalah peristiwa yang sangat boleh untui digunakan karena memang wajarnya sebuah cerita itu dimulai dari sebuah peristiwa yang tak terduga dan berada di luar kendali dari tokoh utama. Dari adanya peristiwa tidak terduga inilah, nantinya tokoh utama akan memulai pertualangannya. 
Sedangkan peristiwa tidak terduga, yaitu kehadiran dewa penolong dan kebetulan yang mengada-ada adalah hal yang akan melemahkan cerita. Karena dalam dunia fiksi, pembaca menghendaki tokoh utama dapat menyelesaikan setiap krisis dan konflik dihadapannya secara masuk akal bukan dengan dewa penolong ataupun sesuatu diluar peristiwa sebab dan akibat. 

*BEBERAPA PERTIMBANGAN DALAM MENGGARAP PLOT

dalam membuat plot ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu (1) Logika cerita, (2) titik titik penting dalam cerita, (3)berpikir ttg akhir cerita. 
Dalam membuat cerita yang masuk akal maka setiap kesulitan, tindakan, setiap kejadian dalam cerita harusnya dilandasi oleh adanya hukum sebab akibat. Suatu peristiwa yang terjadi hari ini adalah akibat dari kemarin, dan peristiwa yang terjadi hari esok adalah akibat dari hari ini. 
kemudian agar cerita menarik dan memudahkan kita dalam membuat cerita maka kita harus memikirkan titik-titik penting atau peristiwa-peristiwa apa yang kita ingin masukan dalam cerita kita. Setelah titik-titik penting itu terbentuk barulah kita membuat untaian-untaian benang penghubung dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya dengan hukum sebab akibat agar masuk akal. 
mengenai ending, ini adalah bebas dan bukan keharusan, dimana ada beberapa penulis yang membuat karya tulisnya dari ending yang dia ingini,
kemudian dari ending itu barulah penulis memikirkan adegan-adegan mendukung untuk tercapainya ending tersebut. 

*BEBERAPA SARAN TENTANG PLOT

perhatikan moment yang tepat untuk membuka kisah di novel kita, karena kisah awal kita ini adalah moment dimana pembaca memutuskan untuk meneruskan membaca atau menutupnya. 
saran yang baik adalah potong ditengah... jadi sajikan cuplikan cerita tengah kisah kita. 
kemudian dalam membuat plot kita juga perlu mengenai secara detail dan mendalam dari karakter tokoh kita, dengan begitu kita bisa menuliskan kisah dengan mengalir karena kita mengenal mereka. 

*HAL-HAL YANG PENTING DALAM MENYUSUN PLOT 
(1) Karakter yang masuk akal dan mengundang simpati; 
(2) Persoalan yang dihadapi oleh karakter utama; 
(3) Upaya dari tokoh utama untuk mengatasi masalahnya; 
(4) Krisis, kesempatan terakhir untuk atasi masalah;
(5) Resolusi 

*HAL-HAL YANG UMUMNYA MENJADI MASALAH DALAM PLOT
(1) MELANTUR:  tidak jelas kemana arah cerita. dikarenakan penulis memulai cerita tanpa gagasan yang jelas. penyelesaiannya adalah tulis ulang. 
(2) PUYENG: Ceritanya membingungkan, terlalu banyak karakter dan hal yang ingin diceritakan. Dikarenakan tidak tegas menceritakan tentang siapa dan cara bercerita yang tepat. Penyelesaiannya adalah kurangi jumlah karakter. 
(3) MENGABAIKAN KARAKTER : unsur-unsur plot telah ada namun cerita tanpa tujuan. dikarenakan penulis mengabaikan karakter utama dalam cerita. penyelesaiannya adalah kembali bangun tokoh-tokoh dalam cerita. 
(4) ENDING MENGECEWAKAN : Ending mudah tertebak, pengarang gagal untuk mengecoh pembaca. penyelesaiannya adalah susun kembali plotnya. 

hah... inilah kira-kira resume dari bahan kelas menulis day 3.. 
semoga berguna yaa..

best regard, 
karizza rakmavika 



Rabu, 20 Februari 2013

Tentang Loyalitas pada Penerbit


Hai..., teman-teman... 
ehehe..., sebenarnya aku agak takut nih nge-post tentang Loyalitas pada Penerbit ini, 
soalnya masih ada hutang post untuk untuk pertemuan Sekolah Menulis by Jakarta School pertemuan ke 3. 

hhmm..., 
tapi menurut aku pribadi ini juga gak kalah penting lho, 
malah lebih penting...
karena seorang penulis itu masa depannya bergantung dari attitude penulis juga- Kata Kak Rani. 
(kayak yang Tyra Banks nasehatin ke model-modelnya di Amerika Next Top Model gitu deh )

Aku mau share tentang Loyalitas pada Penerbit ini, 
baik dari pengalaman pribadi aku dan juga dari post-post pihak-pihak yang sudah berpengalaman.. 
entah kenapa sejak aku ngalamin sendiri, 
rasanya topik ini jadi selalu mengusik telinga.
Tiba-tiba booming gitu..., 

Kalau pengalaman aku sendiri yang terkait dengan Loyalitas pada penerbit ini, 
bukan karena aku mau jadi anak durhaka atau jadi kacang-lupa-pada-kulitnya sama pihak Gagasmedia. 
jadi aku sama sekali enggak ada niat untuk ganti penerbit, 
tapi ada penulis dari penerbit lain yang ngajak aku untuk duet bersama meraka... 
So, karena gagasmedialah yang sudah membuat aku bisa melihat tulisan aku di rak buku dan memberikan beasiswa, jadi aku nanya ke Kak Rani dan Kak Christ..., 
dan berakhirlah... dengan sedikit drama di perasaan ini.. 
*merasa bersalah gitu..., merasa enggak tahu diri...*

email dari kak christ atas pertanyaan aku... 
zsa-zsa dear, aku sudah bicarain ini sama Rani..., mungkin dia yang bisa jelasin kamu lebih lanjut tentang ini...
Rasa bersalah itu muncul,
dan masuklah sms dari mentor aku sejak SMA itu... 
dari balas membalas inti dari sms-sms itu adalah : 
menyarankan aku untuk tidak pindah, karena gagas yang sudah menerbitkan karya aku yang pertama dan juga sudah menyekolahkan aku. tapi mereka enggak melarang bagaimana pilihan aku, apa tetap mau menulis dengan penerbit lainatau enggak, tapi dari sikap kita, penerbit akan melihat kesetiaan kita terhadap penebit dan seperti itulah penerbit akan memperlakukan kita. 
Dari situ aku memutuskan untuk tidak duet, walaupun konsep yang mereka kasih itu besar banget dan mungkin aku bakal menyesal, tapi kesuksesan memang butuh proses dan waktu bukan? 
sukses instan itu enggak bagus bukan? 
untuk sukses yang lama, aku mutusin untuk setia dengan gagasmedia dan menyerap ilmunya bagaikan spons.
ehehehe..

akhirnya aku email ke kak Christ, 
minta maaf dan menjelaskan keadaannya. 
pada balasannya email itu, Kak Christ juga kasih aku masukan yang logis 
dan perlu dipertimbangkan oleh temen-temen calon penulis kalau mau pindah-pindah penerbit... 

Dari hal yang remeh, saat nanti kita promo buku oleh penerbit lain, kita enggak bisa sebut judul-judul novel yang sudah aku tulis tapi diterbitin oleh penerbit lama..
karena bakal jadi inappropriate, kesannya promosi buku untuk penerbit lain... dan itu sayang banget kan? 
alasan lain yang serius adalah hubungan kita dengan penerbit lama -penerbit baru,penerbit lama akan lihat kita sebagai penulis bukan lagi prioritas untuk diterbitkan tulisannya karena sudah ada rekan penerbit lain bukan?dan dengan 'berselingkuh' ke penerbit lain, kita juga akan kurang dilibatkan dalam proyek-proyek internal penerbit. 
jadi kata kak christ, dari pada gonta ganti penerbit lebih baik ganti aja sekalian.. 

BUT NO! aku enggak akan ganti...mau setia sama gagasmedia sampe mati..  Ehehe.. 

Kemudian kemarin juga ada tulisan dari Kak Christ di Fan Page-nya, 
yang kasih point-point  yang bisa jadi pertimbangan untuk pindah penerbit... 
dan dibagi- bagi jadi YES or No... 
aku rangkum aja yaa... 

YES! pindah penerbit kalau: 
1. Kontrak dan administrasi dari penerbit itu tidak jelas...;
2. Penerbit baru menawarkan hal-hal yang memang lebih kamu butuhkan; 
3. Genre di penerbit baru memang lebih 'kamu'; 
4. Kalau kamu bisa membedakan cara menulis kamu di penerbit lama dan penerbit baru.

NO! 
1. karena tergoda dengan royalti dan uang muka; 
2. karena hanya penasaran dan ingin membandingkan; 
alasannya adalah karena kamu akan kehilangan priviledge di penerbit lama kamu dan kemungkinan juga enggak bisa kembali ke penerbit lama kamu... 


kemarin juga ada yang nanya sama Kak Windy via Tweeter, 
gimana kalau penulis pindah penerbit, 
jawabannya singkat,jelas, dan padat : 
penulis itu manusia yang merdeka. Sebagai penerbit tidak mau membeli kesetiaan penulis, hanya bisa memastikan penulis itu bekerja dengan penerbit yang baik. kerjasama antara penulis dan penerbit itu adalah investasi kepercayaan dan penerbit akan lebih berjuang untuk mereka yang setia..
intinya sama bukan..., 
so attitude berupa kesetiaan itu penting..., 
bukan sama kekasih hati aja, ke penerbit jugaa... 

sekian yaa..., 
balik edit skripsi lagi nich...
semuanya semangat! 
best regard, 
Karizza Rakmavika  










Jumat, 15 Februari 2013

Goodreads

Halo temans, 
Karizza Rakmavika back again ... 
Di post kali ini akan berbagi tentang pengalaman tentang baca review di Goodreads

Pertama-tama aku mau buat pengakuan ke teman-teman sekalian, 
jujur aku bukan pencinta baca novel, ehehe... 
aku suka baca tapi bukan novel... 
aku suka baca tentang kebudayaan, buku buku motivasi, pokoknya buku buku non-fiction. 
entahlah, mungkin karena aku merasa baca buku yaa, harus nambah ilmu. 
tapi biarpun begitu, aku suka nulis. 
aneh bin ajaib ya? 
tapi ya, beginilah adanya... apa daya.. 


Jadi... ya mungkin karena itu tulisan aku monoton, kurang deskriptif, dan kaku... (bahkan dulu guru Creative Writing aku saranin aku nulis artikel ajau bukan novel romance)
dan karena itu juga aku enggak tau ada forum yang namanya Goodreads, forum dimana pembaca memberikan review tentang novel atau buku-buku lainnya. 
Sampe suatu hari ada salah satu pembaca Secret Admirer kirim aku link tentang review dia tentang Secret Admirer yang juga lumayan menyakitkan.. eh! salah! sangat menyakitkan. 
menurut dia, novel tulisan aku itu seharusnya dimasukan ke kloset aja,
akhirnya tweetnya aku respon dengan sopan dan sedikit menyindir.. ehehe.. 

terus akhirnya berapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk buka dan baca review tentang Secret Admirer di Goodreads.
Yang reviewnya lumayan... hhmm... menyakitkan. 
Ceritanya enggak masuk diakal dan kenapa gagasmedia mau nerbitin buku seperti ini?
buku seperti ini harusnya dimasukan ke kloset aja
masa depan indonesia hancur kalau ada mahasiswa yang bikin nulis seperti ini.
Dan masih banyak lagi... ahaha.. 

Dari situ,  aku tahu kenapa banyak aktris dan aktor korea yang bunuh diri karena menerima komentar-komentar negatif dari para netizen, 
karena itu memang menyakitkan, sangat bikin down, merasa enggak berharga, dan enggak di terima di dunia bidang mereka bergerak. Jadi kalau jumlahnya banyak ya... akhirnya depresi dan memilih untuk bunuh diri. 

Kalau  aku pikir, sepertinya dunia nulis dan dunia akting itu sama. 
Dimana kita menggantungkan pekerjaan kita itu di tanggapan orang lain. 
Apakah karya tulis kita atau akting kita disukai sama orang lain? 
dan pendapat-pendapat itu sangat berharga buat kami karena panjang pendeknya eksistensi kami benar-benar bergantung sama tanggapan orang. 
mungkin itu yang membuat aku dan para celeb yang lain down saat baca negatif komentar.  

Setelah baca review tentang Secret Admirer jujur aku jadi takut banget buat nulis lagi, tiba-tiba aku merasa kalau aku enggak punya kemampuan dan  enggak layak untuk nulis cerita lagi.
Tapi kakak aku bilang, 
Ya..., memang mau berharap tanggapan kayak apa dari seorang Karizza Rakmavika yang jarang baca novel? Ya wajar kalau tanggapannya gitu. Memangnya mau gimana lagi?

So..., hari itu aku bener-bener pengen berusaha untuk memperbaiki kemampuan nulis aku... 
sekarang aku bakal lebih banyak baca novel yang genre-nya sejenis sama novel aku.. 
dan enggak hanya membaca, tapi lebih dari itu. Belajar. 

Jadi akhirnya aku putuskan kalau Goodreads, walaupun menyakitkan, enggak akan aku anggap sebagai hantu yang mengerikan, 
tapi aku anggap sebagai 'sesuatu' yang mendorong aku untuk bisa lebih baik lagi, 
sebagai 'sesuatu' yang mengontrol aku supaya enggak besar kepala, supaya tetap rendah hati, dan mau belajar. 

Dan karena itu, tolong support aku ya.. 

terus baca tulisan-tulisan aku selanjutnya, 
terus lihat perbaikan dan perkembangan aku teman-teman semuanya... 

karena saat ini, aku sedang belajar untuk jadi lebih baik lagi... 
Saat ini aku sama seperti teman-teman yang sedang menulis cerita lainnya.. 
kita sama-sama belajar. 
kita harus semangat!

ehehe... 

kalo dipembatas buku Gagasmedia, 
read is cool dan writing is hot... 
maka kita sekarang cool dan hot...
kayak dispenser.. ehehe..

Udah ah curhatnya...
ehehe...

again, best regard... 

Karizza Rakmavika 


Minggu, 10 Februari 2013

KELAS MENULIS by Jakarta School : DAY 2

 Hi sobat! 
Back again..., this is zsa zsa... 
and I'm here because i want to share my experience in my writing class by Jakarta School day 2.. 

Di kelas ke dua ini, 
suasana kelas mulai mencair, mungkin karena para penulis sudah mulai 
mengenai satu sama lain, jadi suasana tidak canggung lagi... 
ehehehe... 
hope we'll be being closer again next week. 

Dan di hari kedua ini, entah kenapa... 
topik bahasannya agak random walaupun tetep berisi... 


  • Pentingnya Deskripsi pada Novel atau cerpen 
Menurut Pak A.S. Laksana, salah satu hal yang membuat para pembaca hanyut dan tenggelam dalam cerita adalah pendeskripsian suasana dan keadaan dalam cerita itu. Oleh karena itu, sebagai penulis kita harus mampun menbuat deskripsi yang baik dan caranya adalah dengan menjelaskan sesuatu dengan kelima indera kita, bukan hanya satu indera.

  • Pentingnya Kalimat Pertama Pada Cerita 
Kemudian dalam diskusi juga dibahas mengenai pentingnya kalimat pertama dalam cerita kita, baik novel maupun cerpen. Karena dari kalimat pertama inilah pembaca memutuskan untuk melanjutkan membaca atau enggan membacanya. Oleh karena itu, sebagai penulis yang baik, kita harus benar-benar memikirkan apa kalimat awal yang hendak kita pakai untuk mulai bercerita. 
  • TIPS! untuk Mendapatkan Ide Cerita 
Seperti yang sudah dibahas pada perjumpaan pertama, kalau kemampuan menulis itu perlu diasah setiap harinya dan menurut pengalamannya, Pak A.S. Laksana menyatakan bahwa ketika kita produktif menulis maka biasanya muncul- muncul ide baru. Jadi bila kita ingin dapat menulis dengan lancar maka kita harus produktif untuk menulis,  minimal sediakan 1 jam sehari untuk benar-benar konsen menulis. 
bila tidak ada ide yang digunakan untuk menulis, ada beberapa tips yang diberikan oleh Pak A.S. Laksana agar kita mendapatkan ide: 
1. pikirkan berbagai adegan yang ingin kita masukan dalam cerita kita dahulu barulah rangkai plotnya;
2. buat kerangka ide dimana dari satu hal berkembang hal-hal lain yang berhubungan dengannya, begitu seterusnya. 
3. mulai mengkhayal dengan kata tanya, "what if..." atau "bagaimana jika..."
4. kemudian yang terakhir adalah adaptasi cerita-cerita lain dengan versi kita, versi yang baru dari diri kita akan cerita tersebut. 
  • About Outline 
Membuat outline untuk suatu cerita sebenarnya merupakan hal yang penting karena membantu kita tidak melenceng dari pola dan tujuan awal dari cerita kita. Namun outline itu, sesungguhnya bukan penjara bagi penulis, karena walaupun sudah memiliki outline tapi kita sebagai penulis masih boleh mengembangkan ide-ide yang ada pada outline tersebut ataupun menambah tokoh-tokoh baru. 
  • Karakter Pada Cerita 
Dalam membuat cerita maka karakter pada cerita itu harus kuat dan harus benar-benar kita kenali, karena tanpa ada penokohan karakter yang kuat maka tokoh itu hanya akan menjadi bahan media bagi pengarang yang sedang curhat atau karakter tersebut tidak memiliki jati diri. 
kemudian pada setiap tokoh, karena memiliki sisi positif ataupun negatif, tujuannya adalah agar karakter berdinamika dan mendapatkan simpatik dari para pembaca. 


see..., 
a bit random namun berisi bukan yang dibahas pada kelas menulis di hari kedua ini... 

itu aja sharing saya di hari kedua sekolah menulis by Jakarta School...

see you again next week...
best regard, 
Karizza Rakmavika

Up date! 12 tahap The Hero's Journey by Joseph Campbell


Alloha teman-teman, 
kemarin saat membahas tentang kelas menulis Day 1, 
aku ada sebut sedikit mengenai 12 tahap dalam The Hero's Journey by Joseph Campbell 
Menurut Pak A.S. Laksana, biasanya plot dlm cerita dan film ini, mengandung 12 tahapan ini. 

pada post yang lalu udah aku sebutin point-point-nya, tapi belum ada penjelasannya, makanya 
di post kali ini akan aku bahas penjelasannya. 

check it out ya!


  1. Kehidupan Normal: gambaran kehidupan normal dari tokoh utama, disini kita menceritakan kehidupan awal tokoh sebelum kisah atau pertualangannya itu dimulai;
  2. Panggilan Bertualang: Pada tahap ini tokoh utama dihadapkan pada masalah atau tantangan dalam hidupnya. Tidak selalu harus masalah, seperti misalnya pada drama cinta maka si tokoh utama mungkin bertemu dengan orang yang membuatnya jatuh cinta;
  3. Menolak Panggilan bertualang:Umumnya dalam cerita si tokoh utama menolak panggilan bertualangan itu, seperti mungkin ada rasa takut atau ragu;
  4. Pertemuan dengan Mentor: Bisa siapa saja. Mentor ini adalah sosok yang membuat si tokoh utama menjadi lebih siap dan mantap untuk memasuki pertualangannya;
  5. Melintasi Gerbang Pertama: Akhirnya tokoh utama mulai memasuki pertualangannya. Tokoh utama sudah masuk ke dalam dunia barunya dan tidak bisa mundur lagi;
  6. Ujian Pertama: bertemu musuh dan bertemu sekutu: Disini adalah pemanasan bagi di tokoh utama setelah memasuki pertualangannya. Tokoh utama menghadapi sedikit masalah kecil, tapi pada tahap ini pula, tokoh utama mendapatkan teman dan juga mengetahui siapa musuhnya. 
  7. Memasuki Gua atau Dunia yang Berbahaya; Pada tahap ini, akhirnya tokoh utama mulai memasuki dunia berbahayanya itu atau masalah utamanya. Pada tahap inilah tokoh utama menghadapi seluruh masalahnya dan berusaha untuk mengalahkan semua itu;
  8. Cobaan Berat; saat-saat kritis ketika si tokoh utama menanggung cobaan yang sangat berat. Inilah saat-saat dimana penonton atau pembaca diajak untuk bersimpatik pada tokoh utama; 
  9. Mendapati Pedang Sakti;  Pada fase ini, cobaat berat yang dialami oleh tokoh utama memberinya pemahaman lebih baik mengenai masalahnya atau lawan jenisnya. 
  10. Keluar dari Gua atau Dunia Berbahaya; Tokoh utama berusaha untuk keluar dari masalahnya; 
  11. Kebangkitan Kembali;  Berkat pengalaman dalam menghadapi masalah maka tokoh utama menjadi sosok yang lebih kuat;
  12. Kembali dengan Obat Mujarab;  Tokoh utama kembali ke dunia asalnya membawa obat mujarab atau pelajaran penting dari pengalaman hidupnya sehingga dapat menjalani hidupnya dengan lebih baik.
Itulah 12 tahap dalam The Hero's Journey by Joseph C. 
cukup membingungkan bukan kalau harus diadaptasi ke dalam konflik romance, 
tapi bisa kok... ehehe..., 
karena aku sudah melakukannya.. 
semangat semua yang ingin mencoba mengaplikasikan tahapan ini ke ceritanya..

again, 
best regard, 
Karizza Rakmavika 


Sabtu, 02 Februari 2013

KELAS MENUULIS by Jakarta School : DAY 1

Hi Hi Every body, Karizza Rakmavika is in the house... ehehehe.. 
Seperti yang telah saya janjikan dan tujuan saya menulis blog ini, 
saya akan me-sharing ilmu yang saya dapatkan dari kelas menulis cerpen atau novel hari pertama kemarin, 


Soo.., are you ready? 
Yes! Yes! You have to ready... 

pertama-tama biarkan saya menjelaskan guru yang akan membimbing kami selama tiga bulan ke depan ini... 
Namanya adalah A.S Laksana,
beliau adalah lulusan UGM jurusan Sospol, jadi sangat bisa dimengerti bila  telinga ini  mendengar aksen-aksen kental Jawa dari setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. 

Merujuk dari biodata bukunya yang berjudul " Creative Writing" karangannya (Super duper Promise!!! later bakal bahas buku ini karena isinya sangat berguna...), beliau merupakan salah satu sastrawan terbaik di Indonesia. 
Pada tahun 2004, kumpulan cerpen beliau yang berjudul "bidadari yang mengembara" merupakan salah satu karya sastra terbaik versi Majalah Tempo dan ditahun yang sama dirinya juga merupakan sastawan terbaik versi majalah yang sama. 
Jadi..., Pak A.S Laksana ini memang sosok yang tepat untuk kita serap ilmunya dalam bidang tulis menulis ini. 


Pada pembukaan kelas menulis ini, 
juga ditekankan bahwa menulis, sama seperti pekerjaan atau kegiatan lainnya, 
sesuatu yang bisa dipelajari dan practice make it perfect
menulis itu bukan sesuatu yang berasal dari bakat, melainkan dari suatu proses pembelajaran dan berlatih untuk menulis. 

Setelah pembukaan,  Pak A.S. Laksana menyuruh kami untuk menulis mengenai 
biodata kami pada halaman novel kami pada saat 10 - 15 tahun ke depan selama 10 menit. 
Hasil tulisan saya selama 10 menit ini adalah:  
Karizza Rakmavika namanya. Perempuan kelahiran 1991 yang mendapatkan gelar S.H dan MKn dari Fak. Hukum UI, debut di dunia penulisan dengan novel remaja berjudul Secret Admirer ini terus aktif menulis hingga sekarang. Kecintaannya pada drama dan fashion mendorongnya untuk menjadi penulis skrip dan menjadi kontributor pada majalah fashion ternama di Indonesia. Tak berbeda dengan tulisan-tulisannya yang lalu, tulisannya kali ini masih berbau romance. 
Singkat, padat, tapi kurang jelas. 
Namun sulit ditulis dalam 10 menit karena ini menyatakan diri kita untuk 10-15 tahun kedepan. 
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya masukan dalam biodata itu, seperti... 
saya juga aktif menjadi notaris..., kalau sebenarnya naskah skrip yang saya  tulis itu adalah cerita yang berasal dari novel-novel karangan saya,  saya juga ingin menjadi kontributor di bidang beverages and foods, dan kalau bisa tidak hanya pada majalah-majalah terbaik di Indonesia, jadi juga mancanegara. 
Tapi apa daya, saya malu untuk menulisnya.

Hanya dengan tulisan mengenai biodatanya saja, Kak Nilam Suri sang pengarang Camar Biru, berhasil membuat aku kagum sekaligus iri dengan kemampuannya memilih dan menyusun kata. Biodata  singkat Kak Nilam yang  miliki pemilihan kata sederhana namun tepat sasaran itu, membuat saya minder dan ketir dengan kemampuan menulis dan imajinasi saya. 
Kenyataan yang lebih menohok lagi adalah kedatangannya yang terlambah Kak Nilam, sehingga waktu menulisnya lebih sedikit dari waktu yang aku punya, tapi hasilnya... sangat cetar membahana... . 

Setelah semuanya membacakan biodatanya masing-masing, Pak A.S. Laksana 
menyuruh kami menyimpan biodata itu guna menjadikan dia sebagai tujuan kami sebagai penulis. 

Akhirnya masuk ke materi pelajaran sekolah menulis. 
dalam materi itu, Pak A.S Laksana menekankan kalau: 

  • Cerita yang bagus adalah cerita yang seperti berlian yang bersinar dan indah disetiap sisinya. Jadi setiap cerita yang bagus adalah cerita yang kuat baik dalam plot, karakter, pemilihan kata, dan lainnya. Karena tidak mungkin cerita yang baik itu hanya kuat di satu aspek saja dan oleh karena itu, setiap penulis harus mampu menguasai teknik-teknik dari setiap aspek tersebut. 
  • Cerita yang cerdas adalah metafora. Metafora adalah kemampuan untuk menyampaikan secara tidak langsung. Jadi bila kita ingin menyampaikan A maka kita menyebutkan B. Misalnya kita ingin mengucapkan "sedih", kita tidak langsung menuliskan sedih atau sinonimnya tapi menceritaknnya dengan cara lain, seperti melalui tindakan sang tokoh atau rangkaian adegan. Dengan begitu, cerita kita tidak mendikte melainkan mengajak pembaca berkhayal. 
  • Cerita yang baik akan abadi.Cerita yang baik akan abadi karena selalu sanggup melepaskan diri dari ruang dan waktu, karena cerita itu selalu memiliki kesejajaran pengalaman hidup dengan pembacanya dari berbagai masa dan tempat. 
  • Karya sastra tidak ruwet dan sulit untuk dibaca. bila ada karya sastra yang ruwet maka hal itu disebabkan karena ketidakmampuan penulisnya untuk menemukan pengucapan yang lebih sederhana. 


Kemudian, pada kelas itu juga dijelaskan bahwa berdasarkan penelitian Joseph Cambell, 
cerita diseluruh dunia, umumnya terdiri dari 12 tahap: 

  1. Kehidupan normal;
  2. Panggilan bertualang; 
  3. Menolak Panggilan Bertualang; 
  4. Pertemuan dengan mentor; 
  5. Melintasi gerbang pertama; 
  6. Ujian pertama; 
  7. Memasuki gua atau dunia berbahaya; 
  8. cobaan berat; 
  9. berupaya keluar dari goa atau dunia berbahaya; 
  10. mendapatkan pedang sakti; 
  11. kebangkitan kembali; 
  12. kembali dengan obat mujarab.
dan cerita yang baik adalah cerita yang mengandung semua tahapan ini. 
hal inilah yang menjadi pr kami... 
kami harus membuat outline dengan susunan tahapan ini, yang menurut saya sendiri agak sulit memasukan unsur-unsur ini untuk novel romance
but..., it worth to try

again..., 
best regard, 
Karizza Rakmavika. 

see you...