Jumat, 02 Januari 2015

TAHUN DUA RIBU EMPAT BELAS



Hi! 
Akhirnya di tanggal 2 Januari 2015 aku membuat post mengenai 'Penutupan Tahun 2014.' 
Sedikit basi sih memang, tapi apa boleh buat kemarin internet dirumah mati dan baru aktif lagi hari ini. 
Ehehe� 

Di awal tahun 2015 ini, aku pengen ngajak teman-teman untuk merenungkan apa yang terjadi pada diri kita di tahun 2014. Untuk aku sendiri, tahun 2014 bukan tahun yang produktif  untuk diriku, namun memberikan aku banyak pendewasaan. Banyak hal yang terjadi terjadi di tahun 2014, mulai dari hal yang menyenangkan sampai hal buruk yang tidak pernah terbayangkan oleh diriku. 

Pada awal tahun, tepatnya bulan Maret 2014, kakak perempuanku yang pertama dan satu-satunya menikah. Hal yang sangat membahagiakan. Bagaimana tidak? Akhirnya kakakku mendapatkan cinta sejatinya. 
Namun di tengah semua kegembiraan itu, aku merasa sedikit kesedihan. Karena itu setelahnya, aku harus  berpisah dengan kakakku, lantaran dia harus ikut suaminya menetap di Jepang. 

Tapi ternyata ada hal yang lebih berat dari itu. Seperginya kakakku, tugasnya sebagai anak tertua bergeser padaku. Semua keluh kesah orang tua, terutama dari mama, yang ternyata selama ini  hanya didengar oleh kakakku jadi didengar oleh aku. Dan  mendengar urusan orang dewasa itu bukanlah hal yang mudah. Dari cerita-cerita mama,  aku jadi tahu kalau ternyata keadaan keuangan keluargaku tidak sebaik tahun 2013. 

Keadaan usaha papa tidak sebagus tahun lalu. Sudah beberapa bulan papa usaha papa tidak membuat penghasilan. Menyadari hal itu,  aku  memutuskan untuk harus mengandalkan diriku sendiri untuk memenuhi kebutuhan harianku sendiri. Saat itu, aku benar-benar merasa beruntung pernah menerbitkan novel Secret Admirer, karena uang hasil penjualan novel itulah yang membuatku bertahan. 

Dari kesulitan itu aku semakin tersadar akan beberapa hal: 
  1. Ternyata benar kata-kata orang yang mengatakan roda kehidupan itu berputar dan tak selamanya kita berada di atas; 
  2. Dan pertukaran posisi pada roda kehidupan itu terjadi dengan sangat cepat. 
Dan Aku juga  tersadar kalau hidup itu sangat menyeramkan. 

Karena kesulitan itu,  sepanjang tahun 2014, aku menyesali keputusanku untuk   mengambil pendidikan lebih tinggi bukan bekerja. Setiap hari aku selalu menyalahkan diriku. Seharusnya aku bekerja jadi dapat meringankan beban orang tua bukannya malah belajar dan menambah beban mereka. 

Namun beban hati itu berkurang ketika papa dan mama berkata kalau semua kesulitan saat itu bukan salahku dan mereka sama sekali  tidak merasa terbebani atas biaya kuliahku. 
Sejak hari itu, aku semakin bertekad untuk lebih berbakti lagi kepada mereka.

Aku pernah mendengar sebuah ucapan� 
"Jangan pernah menghina pemberian orang tua kepada anak-anaknya, 
sejelek apapun itu karena itulah hal yang terbaik dari yang mereka miliki." 
Dan sejak kesulitan ini, aku jadi tahu maksud kalimat itu. 
Sejelek apapun yang orang tua berikan kepada kita, itu adalah yang terbaik dari mereka. Jadi jangan pernah mengeluhkan pemberian mereka.

Papa�. Mama�. Aku sangat mencintai papa dan mama�. 
 
Beberapa bulan berikutnya keadaan keuangan papa sudah mulai membaik. Aku pikir aku bisa mulai bernapas lega dan kembali menjadi mahasiswa yang hanya berkonstrasi pada kehidupan kampus. Namun nyatanya, Tuhan tidak mengijinkan aku untuk lengah. Tiga hari setelah hari ulang tahunku, rumah yang aku tinggali selama 11 tahun - tempat aku mengabiskan separuh hidupku- di lahap habis oleh si jago merah dalam satu jam.

Dulu aku sering bertanya-tanya, apa rasanya ya tertimpa oleh musibah yang mematikan atau heboh? Dan  sekarang aku tahu rasanya. Rasanya adalah seperti duniamu kiamat dalam hitungan detik. Begitu menyeramkan hingga kamu berharap  kalau semua yang terjadi di hadapanmu adalah mimpi. 
Ketika melihat semua benda yang papa dan mama kumpulkan secara bertahap selama sebelas tahun itu habis dalam satu jam,namun tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya, aku benar-benar berharap kalau semuanya itu adalah mimpi. 

Namun sayangnya itu bukan mimpi. 
Berkali-kali aku memaksa diriku untuk bangun dari mimpi buruk ini. Tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Begitu menyeramkan hingga menyesakan. Alhasilnya yang bisa aku lakukan hanyalah menangis sambil mengingatkan diri sendiri kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan manusia. 

Ada kala dimana aku berhadap kalau diriku ini menjadi gila hingga bisa kabur dari semua kenyataan yang sangat menyeramkan itu. Tapi akhirnya,  aku memutuskan untuk menjadi kuat dan  tidak melakukan semua itu. Aku harus menjadi kuat! Aku percaya bila bersama papa dan keluarga lainnya, aku bisa bertahan hidup. 

Dan ternyata benar! Aku, papaku dan keluargaku tidak mengecewakan dirinyaku.  Buktinya, walaupun berat, namun kami sekeluarga bisa melewatinya hingga bisa memasuki tahun dua ribu lima belas dengan cukup baik. 

Karena itulah  di awal tahun 2015 ini�. 
aku ingin memberikan pelukan dan kecup kasih sayang untuk diriku sendiri. 

Karizza Rakmavika! 
Terima kasih untuk segala usahamu di tahun 2014. 
Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun tahun mendatang. 
I love You! 


lalu bagaimana dengan teman-teman sendiri? 
Apa saja yang terjadi pada kalian di tahun 2014 ini? 

dua  Januari dua ribu empat belas 
BSD 
De Park , De Heliconia  <3

0 komentar:

Posting Komentar